Jumat, 01 November 2013

OPCW

Lembaga pemantau pemusnahan senjata kimia Suriah (OPCW) mengklaim telah berhasil memusnahkan semua peralatan senjata kimia yang dimiliki Suriah pada 31 Oktober kemarin. Berarti ini lebih cepat sehari, dari yang ditetapkan yaitu pada tanggal 1 November 2013.

Kantor berita BBC Kamis ini melansir informasi tersebut dari Kepala Operasi Lapangan OPCW, Jerry Smith dalam sebuah wawancara. Smith menyebut timnya menyaksikan sendiri kegiatan penghancuran senjata kimia tersebut.

"Mereka saat ini sudah tak lagi mampu memproduksi atau mencampur senjata kimia," ujar Smith.

Timnya telah melakukan inspeksi terhadap 21 dari 23 lokasi penyimpanan senjata kimia di Suriah. Sisa dua lokasi lainnya yang berada dalam genggaman kelompok oposisi, tidak dapat dikunjungi karena terlalu berbahaya.

Smith mengatakan tugas yang dia emban sangat menantang, karena diharuskan memusnahkan begitu banyak peralatan senjata kimia dalam tenggat waktu yang ketat. Saking ketatnya jadwal inspeksi, Smith dan tim belum sempat merayakan Nobel Perdamaian yang dianugerahkan oleh Komite Nobel pada 11 Oktober lalu.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Juru Bicara OPCW, Christian Chartier. Dia mengatakan semua persedian senjata kimia dan zatnya telah diletakkan di suatu lokasi tertutup dan tidak mungkin dicuri," kata Chartier.

Menurut laporan PBB, Suriah diprediksi memiliki sekitar seribu ton zat kimia yang dapat digunakaan untuk membuat senjata serta 290 ton senjata kimia. Sehingga, menurut koresponden BBC, tugas mereka masih jauh dari kata selesai.

Zat kimia dalam bentuk bahan mentah itu nantinya akan dipindahkan dan dihancurkan pada pertengahan tahun 2014. Proses penghancuran diprediksi sulit dan rumit.

Wakil Menteri Luar Negeri Suriah, Faisal Mekdad, mengatakan dengan terpenuhinya tenggat awal pemusnahan alat senjata kimia, ketakutan publik internasional tidak terbukti.

"Saya berharap mereka yang selalu berpikir negatif tentang kami akan berubah pikiran dan pemahaman bahwa Suriah tetap dan akan selalu menjadi mitra yang konstruktif," kata dia.

Sebelumnya, proses pelucutan senjata kimia Suriah diambil setelah terjadi kesepakatan antara Rusia dan AS mengenai isu tersebut. Menurut Rusia, cara ini ditempuh untuk menghindarkan kemungkinan invasi militer yang tentara AS ke Suriah.

0 komentar: